Kamis, 28 Agustus 2014

Limit

Hidup kita memiliki batas. Batas itu tak jarang: sangat tipis, tak kentara. Kita bahkan sering tak menyadari dan lupa keberadaan batas itu. Ah. Manusia memang tempat segala lupa.
Di antara batas yang paling penting dalam hidup adalah waktu. Musuh waktu yang paling ganas adalah kemalasan. Sementara setiap manusia memiliki porsi hidupnya masingmasing.
Kehidupan manusia mewajibkan ia mencapai banyak hal dalam waktu yang memiliki batas. Semakin banyak hal yang dilakukan, semakin bermakna waktu, maka semakin tak terasa himpitan batas itu. Tapi kemalasan memang luar biasa. Ia membuat manusia lupa, hingga tak menyadari bahwa waktunya semakin menipis. Dan batas semakin kabut. Semakin kabur.
Harusnya, setelah membaca ini, kita semua sadar: untuk segera mengejar segala hal yang belum tuntas -meski semua hal, seyogyanya, tak akan pernah tuntas.
Tapi sekali lagi, manusia adalah tempat segala lupa.
Dan batas semakin terasa mengerikan.

Selasa, 26 Agustus 2014

BELAJAR DENGAN BAIK

Ada yang salah dengan cara belajar kita. Atau cara mengajar kita, jika kita adalah pengajar. Sesungguhnya kita, kebanyakan belajar hanya sebatas MENGETAHUI bukan MEMELAJARI. Apalagi MENGERTI.
Kita lihat banyak contoh di jalanan. Anak muda, sekira usia SD atau SMP, dengan badan yang masih imut-imut, telah banyak yang menjadi pengendara sepeda motor. Yang membuat prihatin, bahkan postur tubuh yang ‘belum ergonomis’, telah berani menanggung ‘berat sebuah sepeda motor’.
Kita mungkin bertanya, kenapa anak sekecil itu telah dipercaya untuk mengendarai kendaraan sebesar itu? Siapa yang mengajarinya? Di saat pertanyaan itu berputar di kepala, saat bersamaan kita melihat para orangtua dengan bangga menjadi pengajar berkendara bagi bocah itu.
Ada yang bilang: apa salahnya mengajar anak sendiri untuk belajar berkendara? Ya, benar tak ada salahnya. Hanya saja, sayangnya, sebagian besar orangtua mengajar bersepeda motor sewajarnya saja. Para bocah tak diajari pelajaran seperti ‘Apa yang harus dilakukan jika motor akan belok kiri atau kanan’, ‘Apa yang harus dilakukan jika ada penyeberang jalan di depan mata’, ‘Bagaimana menghadapi tikungan tajam dan menanjak’, ‘Apa yang harus dilakukan jika banyak anak bermain di jalanan’, ‘Bagaimana menyikapi lampu dekat atau lampu jauh di malam hari’ dan lain sebagainya. Percayalah, ilmu mengendara motor yang mereka tahu kebanyakan adalah ‘Bagaimana menarik gas sekuat mungkin’ atau ‘Bagaimana menyelip kendaraan lain dengan gegabah’. Lupa bahwa berkendara pun, terdapat selipan moral di dalamnya.
Mengajar tak sebatas menyalurkan ilmunya. Dalam mengajar, ada beban agar saluran ilmu itu dapat dipahami, kemudian diamalkan dalam perbuatan. Pengajar yang baik adalah yang mampu menjelaskan darimana asal rumus ‘seperdua alas kali tinggi’ untuk luas sebuah segitiga.
Mungkin, budaya copy paste berasal dari metode belajar yang ‘tanpa memahami’ tadi. Mungkin. ***